Yesus adalah pembebas sejati

Bacaan Alkitab Yesaya 61:1-9.
Tanggal/Warna Liturgy 4 Agustus 2019/Hijau

 

Tema renungan kita pada hari ini yaitu Yesus adalah pembebas sejati. Oleh karena itu Sebelum jauh kita merenungkan pembacaan kita pada hari ini, kita terlebih dahulu mencoba kembali intropeksi diri kita masing-masing bahwa apakah ungkapan yang mengatakan Yesus adalah pembebas sejati sudah menjadi “harga Mati”, sudah menjadi “darah dan daging” dalam tubuh kita. Sudah menjadi kenyakinan yang teguh, yang tidak lagi tergoyahkan oleh apapun sehingga setiap kita menjalani hidup ini, dalam situasi apapun yang kita hadapi, pandangan, pegangan dan harapan kita hanya terarah pada Tuhan Yesus sang pembebas sejati itu.  dan mari mengaminkan itu saudara-saudara dengan bersama sama kita mengatakan YESUS ADALAH PEMBEBAS SEJATI... mari kita katakan... YESUS ADALAH PEMBEBAS SEJATI ..... sekali lagi.....YESUS ADALAH PEMBEBAS SEJATI.

Kiranya ini menjadi ungkapan keyakinan kita yang teguh dan sungguh-sungguh kepada Yesus Kristus yang adalah Tuhan dan Juruslamat kita. Amin saudara-saudara?.....

Sekarang mari kita melihat pembacaan kita, Yesaya 61:1-9. Dan menurut buku Tafsiran Alkitab Masa Kini, perikop ini dibagi dua bahagian dengan tema yang berbeda. Bagian pertama ayat 1-4 bertemakan Nyanyian dari yang diurapi Tuhan, Bagian kedua ayat 5-9 bertemakan Pembalasan yang cukup. Dan taukah kita saudara-saudara bahwa pembacaan kita ini khususnya pada bagian pertama ayat 1-2a perna dibaca oleh Tuhan Yesus didepan orang banyak didalam sebuah rumah ibadah.

Mari kita lihat Lukas 4:16-30.

Dalam lukas 4 :16-21 ini dikisahkan bahwa ketika Yesus di Nasaret dan waktu itu hari sabat maka ia masuk ke rumah ibadah. Lalu kepadanya diberikan kitab Nabi Yesaya untuk dibaca didepan jemaat yang hadir. Lalu Yesus membuka kitab itu, dan Ia menemukan nas dimana ada tertulis “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang", orang banyak yang hadir saat itu menjadi terpukau, mata mereka tertuju kepada Yesus, bahkan setelah Yesus mulai mengajar mereka dengan kata-kata yang indah “pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya”, Mereka semua terpukau.

Tetapi saudara-saudara, yang menarik dalam Lukas 4:16-30 yaitu bukan saja reaksi orang banyak terhadap Yesus setelah Ia membaca nas dalam kitab Nabi Yesaya itu. tapi juga reaksi Yesus terhadap tindakan orang banyak kepadanya, setelah Ia memberikan pengajaran.

Kenapa hal ini menarik? Sebab ternyata reaksi orang banyak yang hadir di rumah ibadat itu terhadap Yesus bukan hanya terpaku (mata tertuju pada Yesus), bukan saja kagum dengan kata-kata yang indah. Tetapi saat itu juga ddi tempat yang sama (dirumah ibadah) reaksi mereka berubah menjadi 180 % menjadi marah, jengkel bahkan hendak membunuh Yesus (lukas 4:29).

Mengapa perubahan reaksi ini begitu cepat?

  1. Orang banyak yang ada di rumah ibadah saat itu, yang juga semuanya adalah Orang yahudi, bahwa mereka bisa menerima dan  mengerti kalau Yesus berkata “....” bagi mereka perkaataan Yesus ini merupakan sebuah perkataan penghiburan, penguatan dan semangat dalam menanti “mesias yang akan datang memulihkan keadaan mereka”. Ditambah lagi dengan Yesus mengucapkannya dengan kata-kata yang indah, yang dimengerti mereka. Serta mereka mengenal betul siapa Yesus anak Yusuf “seorang tukang kayu itu” yang menurut mereka bahwa Yesus memiliki sebuah keahlian sebagai seorang Tabib yang dapat menyembuhkan penyakit. Hal ini terungkap dalam ayat 23, perkataan Yesus yang memperlihatkan pandangan orang saat itu terhadapnya.Tentu kamu (orang banyak saat itu) akan mengatakan pepatah ini kepada-Ku (Yesus): Hai tabib, sembuhkanlah diri-Mu sendiri. Perbuatlah di sini juga, di tempat asal-Mu ini, segala yang kami dengar yang telah terjadi di Kapernaum!". Kemungkinan besar mereka telah melihat atau mendengar mujisat-mujisat dilakukan Yesus di Kapernaum (lihat.markus 1:21 dst, Matius 5:5 dst). Oleh karena semua itu, wajarlah kalau reaksi semua orang dirumah ibadat saat itu terpana, kagum kepada Yesus.
  2. Reaksi berubah menjadi suasana yang “panas” karena orang yahudi yang hadir di sinagoge saat itu tidak menerima dan mentolelir jika yesus berkata:

-.mereka tidak menghargai seorang nabi. ini membuat mereka merasa dipermalukan walupun sebenarnya itu yang mereka lakukan kepada banyak nabi yang diutus Allah ditengah-tengah mereka (lihat 2 Tawarik 36:16).

-.dialah(Yesus) nabi yang dimaksud. "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku. untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang”.

Mereka semakin marah sewaktu Yesus seakan-akan mengatakan bahwa dialah nabi yang diutus Tuhan. Sebab yang mereka tahu bahwa Yesus adalah anak yusuf seorang tukang kayu. Dan hukum yang pantas bagi orang yang mengaku “mesias” adalah mati. Sehingga mereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing itu (Lukas 4:29).

Bagaimana reaksi Yesus sewaktu orang banyak memperlihatkan kemarahan mereka dan ingin membunuhnya? Lukas 4:30 berkata “Tetapi Ia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi”. Yesus mengerti bahwa orang banyak itu belum percaya kepadaNya sehingga Ia tidak berbalik marah dan menghardik mereka seperti yang perna dilakukannya kepada murid-muridNya sewaktu mereka terombang-ambing didalam perahu oleh karena angin yang kencang bertiup Markus 4:40 Lalu Ia (Yesus) berkata kepada mereka (Murid-murudNya): "Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?".

Jadi wajarlah kalau orang Yahudi ingin membunuh Yesus yang mengaku sebagai utusan Allah sebab bagi mereka itu adalah dosa yang besar dan hukumannya adalah mati. Tetapi menjadi “orang yang durhaka”  kalau masih ada orang Kristen yang meragukan akan Yesus Kristus sebagai mesias/ juruslamaat dunia. Adakah orang kristen seperti itu? Jawabnya ada dan banyak. Atau mungkinkah kita termasuk didalaamnya? Untuk menjawab itu mari kita melihat diri kita sendiri apakah sikap, prilaku dan tutur kata kita telah mencerminkan Iman Kristen.

Lalu apakah yang sebenarnya dikatakan kitab Yesaya secara keseluruhan khususnya mengenai “orang yang diutus” itu. Siapa dia yang diutus itu, untuk apa dia diutus, lalu apa yang akan dilakukan orang yang diutus itu.

Yesaya 61 ini seperti sebuah “Proklamasi” atau pengakuan seseorang yang menyatakan bahwa dirinya telah diutus Allah untuk menjadi penyambung lidah Allah kepada umatNya atau menjadi seorang Nabi di tengah-tengah bangsa Israel.

"Roh Tuhan ada pada-Ku” ini sebuah penyataan bahwa ia benar-benar diutus oleh Allah. “oleh sebab Ia telah mengurapi aku” kata urapan ini menjadi bukti bahwa Allah telah mengutusnya. Dan bagi Yesaya pengurupan itu terjadi sewaktu ia mendapatkan Penglihatan (Yesaya 1:1).

“untuk menyampaikan kabar baik”. Ini menjadi pengakuan akan tugas yang diberikan sebagai utusan Allah. Dan tugas-tugas itu dijabarkan dari ayat 1-3 diantaranya menyampaikan kabar baik bagi orang yang sengsara, melawat orang yang remuk hatinya, memberitakan pembebasan bagi orang yang tertawan, memberitakan tahun rahmat Tuhan, menghibur orang yang berkabung. Dan selain kabar yang “menyenangkan hati”, utusan Tuhan ini juga menyampaikan kabar yang “mengelisahkan hati” sebagian orang yaitu menyampaikan pembalasaan Allah akan terjadi (ayat 2). Pembalasan kepada bangsa-bangsa lain yang telah merampas segala milik kepunyaan umatNya, yang telah merampas kemerdekaan dan menjadikan umatNya sebagai budak. Dan disaat itu juga maka terjadilah pemulihan keadaan bagi umat pilihan Allah (Sion).

Gambaran pemulihan dapat dilihat dalam ayat 5-9. Pemulihan ini menyangkut segala segi kehidupan. Seperti pemulihan dalam hal ekonomi, sosial, hukum, bahkan Politik yaitu status mereka sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat ditengah-tengah bangsa-bangsa lain  (ayat 9).

Inilah yang harus dikerjakan oleh seorang nabi termasuk Yesaya ditengah-tengah bangsa israel, dan seharusnya sebagai umat yang baik, mereka harus mendengarkan dan patuh pada perkataaan seorang Nabi. Yang Walaupun dalam kenyataannya orang israel tidak menghargai seorang nabi bahkan tidak sedikit pula yang hendak dibunuh.

Jadi sekali lagi saya katakan wajar kalau kemudian orang-orang Yahudi (Israel) marah dan hendak membunuh Yesus sewaktu IA juga memperkenalkan diriNya sebagai Utusan Allah.

Tetapi bagi kita orang percaya bahwa semua yang dikatakan Yesus itu ya dan amin, tidak diragukan lagi, 100% benar adanya.

Sebab coba perhatikan Yesaya 61:1 “Roh Tuhan ALLAH ada padaku, oleh karena TUHAN telah mengurapi aku;.....”. Bukankah ini sudah terlihat sewaktu Maria ibu Yesus bertemu dengan malaikat Gabriel dan berkata "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah” (Lukas 1:35). Lalu diperkut sewaktu langit terbuka dan turun Roh Kudus dalam rupa burung merpati diatasNya sewaktu Yesus di baptis dan ada suara dari langit yang berkata "Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan" (Lukas 3:22).

Kemudian dalam perjalanan kehidupan dan pelayanan Yesus hingga kematiannya dikayu salib bukankah menjawab perkataan Yesaya 61:1 yang berkata “Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik...”. Yesus dengan kuasa Allah yang ada padaNya dapat Menyembuhkan yang sakit, menghibur yang berduka, menolong yang sengsara, hingga menyelamatkan yang berdosa. Dimana saja Yesus hadir, disana IA membawa kabar baik, melaui mujizat yang dialakukan, melalui perkataan dan bentuk pengajaran, bahkan sikap yang sangat empati dengan orang-orang yang terpinggirkan, terkucilkan bahkan yang dianggap aib bagi orang Israel. Yesus membebaskan mereka dari kesengsaraan, dari hati yang remuk, dari belengguh derita, dari kungkungan dosa.

Dan ini menjadi sebuah pengajaran juga bagi kita, umat Allah yang percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan juruslamat dunia. Bahkan sekaligus penyadaran bagi kita yang mungkin saja melalui kata, perbuatan, bahkan pikiran mulai meragukan Yesus sebagai Pembebas sejati. Karena tidak sedikit orang Kristen yang mencari jalan lain selain jalan kebenaran Allah untuk memperoleh “pembebasan” dari masalah yang dihadapi. Padahal jalan yang lain itu buntu bahkan menuju pada masalah-masalah lain yang lebih besar.

Memang jalan yang ditawarkan Yesus untuk menuju pembebasan itu tidak selamanya mulus. Kadang berliku, mendaki dan berkerikil. Tetapi tidak perna buntu dan pasti mendatangkan damai sejahtera. Seperti yang Yesus katakan “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Markus 11:28). Itulah yang harus kita yakini dan imani, harus menjadi “harga Mati” bagi kita. Menjadi kenyakinan yang teguh, yang tidak lagi tergoyahkan oleh apapun sehingga setiap kita menjalani hidup ini, dalam situasi apapun yang kita hadapi, pandangan, pegangan dan harapan kita hanya terarah pada Tuhan Yesus sang pembebas sejati itu. Amin. (RNS)