Tuhan Menggendong sampai masa tua

Bacaan Alkitab Mazmur 71:17-24, Yesaya 46:1-7
Tanggal/Warna Liturgy 27 Oktober 2019/Hijau

 

 

Pengantar,

Setiap tahun berganti, kita akan semakin bertambah usia dan semakin tua. Dan masih ada yang tidak mau mengakui bahwa ia sudah termasuk kategori usia lanjut atau lansia. Mengapa? Karena kita hidup di zaman yang memuja kemudaan. Tetapi  suka atau tidak, pada akhirnya setiap orang akan sampai pada usia tua, itupun apabila Tuhan karuniakan sampai usia tua.

Memang semakin usia bertambah maka tubuh pun semakin lemah, sehingga banyak orang tua mengharapkan bahwa masa tua menjadi masa istirahat dan menikmati kerja keras selama ini, masa di mana hidup dengan santai dan tanpa banyak pergumulan.

Namun kenyataannya tidak demikian, seperti yang dialami oleh Pemazmur Daud.

Pendalaman Teks.

Penulis Mazmur 71, memuat pergumulan sebagai orang yang sudah tua.

Dulu pemazmur pernah mengalami masa muda yang penuh sukacita, karena sejak muda ia sudah percaya Tuhan dan hidup bersama denganNya serta Tuhan sendiri yang menopang kehidupannya (ayat 5-6). Masa muda pemazmur ini menjadi kesaksian bagi banyak orang sehingga banyak orang menyebutnya sebagai tanda ajaib dari Tuhan

 (ayat 7-8)

Namun, di masa tuanya, pemazmur mengalami masalah, selain kekuatan fisiknya menurun dan berbagai aspek penuaan sedang dialami, Daud masih mengalami pergumulan yang berat dimana ada orang-orang yang masih mengincar nyawanya atau mmenginginkan kecelakaannya karena mereka mengira ia telah ditinggalkan Tuhan (ay.10-11, 24b). Oleh krn itulah pemazmur berdoa, dalam doanya Pemazmur meyakini bahwa Allah tidak berubah dari dulu sampai sekarang, dari ia kecil bahkan mulai dari kandungan sampai masa tua, Dia adalah Allah yang adil, yang membela dirinya sebagai anak-Nya. Pemazmur menyebut keadilan Allah berulang kali dalam ayat 2,15,16,19,24, sebagai tanda kepercayaannya yang besar akan Allah. Oleh karena keadilan Allah tsb, Pemazmur pun dapat menaikan pujian dan syukur kepada-Nya serta bertekad untuk terus menaikan syukur tiada henti (ayat 6,8,14,22-23)

Saudara yang dikashi Tuhan,

Pengalaman masa muda bersama Allah mendukung keyakinan Daud bahwa Allah tidak akan meninggalkannya.

Pengalaman penyertaan Allah pada masa lampau menjadi pegangan bagi pemazmur dan memantapkan tekadnya untuk tetap melayani Tuhan sampai masa tua dan putih rambutnya, ia masih tetap memiliki kerinduan yang menyala-nyala memberitakan perbuatan Tuhan dan keperkasaanNya kepada angkatan yang akan datang, dan menaikan pujian dan syukur kepada Tuhan. (ayat 17-18, 21-24)

Jadi Daud mengenal Alllah sebagai penolong dan pelindung yang setia, karena itu meski di usia senja atau usia lanjut , yang penuh dengan pergumulan, keyakinannya kepada Allah tidak goyah. Bahkan ia tetap bersyukur dan memuji Allah ditengah-tengah pergumulannya.

Saudara yang dikasihi Tuhan,

Bacaan perikop kedua berbicara hal yang sama, perhatikan ayat  4 : ” Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.”

Pernyataan ini disampaikan  Allah melalui nabi Yesaya kepada bangsa Israel yang sedang mengalami kesesakan sebagai tawanan.  Meskipun mereka ditawan bangsa lain akibat ketidaksetiaan mereka kepada Allah, namun mereka masih tetap saja menggendong patung dewa-dewa yang mereka sembah, sekalipun dewa-dewa tsb tidak dapat menyelamatkan mereka dan tidak dapat berbuat apa-apa untuk mereka.

Bangsa Israel pada masa itu banyak menyembah dewa Bel, dewa tertinggi bangsa Babel dan dewa Nebo, dewa pengetahuan. Mereka bergantung dan berharap kepada dewa-dewa tsb yang mereka anggap dapat menyelamatkan mereka dan memberikan hikmat dan pengetahuan pada mereka. Kenyataannya, dewa Bel dan dewa Nebo yang dulu diarak-arak kereta kencana secara megah uantuk disembah para pengikutnya, kini di muat diatas binatang untuk diselamatkan (ayat 1-2). Ini gambaran Babel yang dikalahkan dan dijarah sehingga penduduknya mengungsi. Dalam pengungsian itu, mereka mengungsikan dewa-dewa sesembahannya. Sungguh ironis, dewa-dewa yang disembah karena keperkasaannya ternyata hanya patung-patung mati yang tidak berdaya, bahkan harus diselamatkan.

Nabi Yesaya menggambarkan Tuhan sebagai Allah yang hidup dan tidak berubah. Dari dulu, sekarang sampai selamanya Dia adalah Allah yang peduli dan terus setia untuk menyelamatkan umat Israel, walaupun mereka sedang di pembuangan.

Melalui Nabi Yesaya, Allah menegur bangsa Israel yang masih mencoba menyamakan  Allah, membandingkan Allah dan mengupamakan Allah sama dengan patung dewa-dewa yang mereka buat dan percayai.

Dalam kondisi seperti itu Allah menyatakan kasih dan kepedulianNya dengan mengingatkan bangsa Israel, bahwa sejak dari rahim/ kandungan, Allah telah menggendong/mendukung mereka demikian pun sampai masa tua atau sampai putih rambut mereka, Allah tetap akan menggedong mereka.  Allah sanggup Menggendong, menanggung beban dan kesesakan mereka bahkan mampu menyelamatkan mereka. 

Aplikasi

Jangan kaitkan perubahan fisik dengan perubahan kasih setia dan  pemeliharaan Tuhan. Tuhan tidak pernah berubah dari dulu, sekaranga sampai selama-lamanya (bdk. Ibr.13:8). Tuhan tidak bosan memakai kita untuk melayani-Nya. Oleh karena itu jadikan masa tua kita sebagai contoh bagi orang di sekitar kita untuk melihat usia lanjut bukan penghalang melayani Tuhan dengan setia dan benar. Fisik boleh menurun, mata rabun, pendengaran berkurang, tetapi semakin matang usia, semakin iman, pujian dan semangat melayani Tuhan harus tetap meningkat. Karena Tuhan adalah Tuhan yang sanggup menopang atau menggendong kita. Maka ketika Tuhan menggendong kita, maka bukan diri kita sendiri lagi yang menghadapi persoalan maupun kesesakan dalam hidup ini tetapi Tuhan Yesus yang menanggung bagi kita, umat yang dikasihiNya.

Bagaimana kita dapat mengetahui bahwa Tuhan sedang menggendong kita?

Ia memberikan kekuatan dan kasih karunia yang cukup bagi kita, baca : Filipi 4:13 dan

II Korintus12:9.

Saudara yang dikasihi Tuhan,

Pengalaman bersama Allah atau pengenalan akan Allah sangat mempengaruhi cara padang dan cara kita menyikapi segala persoalan dalam hidup ini, baik sejak kita muda maupun sampai usia lanjut dan putih rambut.

Semakin hari usia makin bertambah, mungkin sekarang belum, tetapi kelak kita akan menjadi tua. Saat itu ada masalah khas yang kita akan alami, daya ingat dan konsentrasi mengalami penurunan, mata rabun, pendengaran berkurang, rematik, dan sebagainya. Begitupun suasana hati dipengaruhi emosi yang turun naik karena bebagai kemerosotan fungsi tubuh.

Buat saudara yang sudah lanjut usia, yakinlah pada kesetiaan Tuhan dan tetaplah percaya bahwa Tuhan adil dan setia dan akan menopang, menggendong hidup saudara sampai tua. Dan jangan bersandar pada dewa teknologi dan uang yang merajalela masa sekarang. Namun bersandar dan bergantung hanya pada Allah. Sebab Ia tidak pernah melupakan apalagi meninggalkan kita yang setia kepada-Nya.

Ingatlah bahwa Tuhan tidak pernah berpaling dan mengikari apa yang telah Ia janjikan kepada kita umatNya : Sampai masa tuamu …dan masa putih rambutmu…Aku menggendong kamu.

Dengan keyakinan demikian marilah, kita jalani masa tua kita dengan rasa sukacita dan damai sejahtera karena kita tidak berjalan sendiri, melainkan dalam ‘gendongan-Nya” yang memelihara dan menyelamatkan kita.  Amen. (VL)