OTORITAS ALLAH DALAM GEREJA

Mahkota dan Tongkat otoritas

Bacaan Alkitab

YOH 10:27-30;

YESAYA 45:5-7

Tanggal/Warna Liturgy 21 Juli 2019/Hijau

 

PENDAHULUAN

Kecenderungan banyak orang adalah ingin bebas, independen, tidak bergantung dan bertanggungjawab kepada siapapun. Dengan demikian, merasa bebas berbuat sekehendaknya sendiri, tanpa pengayoman dan pengawasan. Bayangkan kalau semua orang hidup seperti ini, pastinya yang terjadi adalah kekacauan. Untuk itulah pentingnya kehadiran seseorang atau lembaga yang mengatur kehidupan manusia. Tuhan Allah adalah pemegang otoritas tertinggi atas kehidupan dunia. Otoritas dimaknai sebagai wewenang, hak atau kuasa untuk mewajibkan kepatuhan. Otoritas berarti hak untuk bertindak; hak melakukan tindakan atau hak membuat peraturan untuk memerintah orang lain. Sebagai pemegang otoritas tertinggi, Tuhan Allah menetapkan seseorang atau beberapa orang di atas kita untuk kebaikan kita. Mereka seperti payung yang melindungi kita. Payung-payung tersebut adalah otoritas yang telah ditetapkan Allah dalam kehidupan kita. Payung otoritas itu bisa merupakan hubungan antar suami-isteri (Ef 5:22-23), orang tua dan anak (Ef 6:1-3), pemerintah dan masyarakat (Rom 13:1-5), atasan dan bawahan dalam pekerjaan (Ef 6:5-8) serta para pemimpin rohani/ pelayan dan jemaat (Ibr 13:7,17). 

PENDALAMAN TEKS

Berbicara tentang otoritas Allah dalam gereja, berarti berbicara tentang hak dan kewenangan Allah dalam gereja. Gereja dijuluki kawanan domba Allah (1 Petrus 5:2,3), “jemaat Allah” (Kis 20:28). Tuhan Yesus adalah kepala jemaat (ef 5:23) dan gembala agung (1Petrus 5:4). Itu berarti gereja adalah milik Kristus dan ialah yang berotoritas di atasnya (Matius 16:18).

Dalam injil Yohanes 10:27-30, Yesus menyebut umat-Nya sebagai domba-domba dan Ia berperan sebagai gembala yang memiliki otoritas penuh atas kawanan domba-Nya. Ketundukan, ketaatan, kesediaan menurut pada apa yang diperintahkan oleh gembala menjadi kewajiban domba terhadap gembala. Yesus katakan “Domba-dombaku mendengarkan suaraku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku” (ay 27). Kata mendengar, akouo diartikan mengerti, mempelajari dan menaati. Dari mendengar, mengerti, mempelajari, menaati, kemudian diakhiri dengan mengikuti sang Gembala. Demikian pula selaku gembala, Yesus mengenal, ginosko, diartikan tahu, mengerti, mempelajari dan mengakui kawanan domba gembalaannya. Yang menarik di sini bahwa otoritas Allah melalui Yesus Kristus ini, bukan hanya dinyatakan melalui perintah tetapi juga dinyatakan melalui keselamatan yang hanya dapat diberikan oleh sang gembala yakni kehidupan kekal. Jaminan kehidupan yang kekal, kehidupan yang tidak dapat binasa diberikan oleh Yesus Kristus. Bahkan Yesus berkata, “seorangpun tidak akan merebut mereka dari tanganku” (ay 28) dan diulangi lagi pada ayat 29, “dan seorangpun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa”, hal ini menegaskan tentang kuasa dan kewenangan-Nya atas umat. Gereja adalah milik-Nya. Allah Bapa yang memberikannya kepada-Nya. Karena Yesus dan Bapa adalah satu (ay 30).    

Nabi yesaya juga menegaskan tentang kemutlakan Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang dapat melakukan segala hal termasuk terhadap mereka yang tidak mengenal dan percaya kepada-Nya. Pekerjaan-Nya melalui Raja Koresy menjadi bukti bahwa ia dapat bekerja di dalam dan melalui apa dan siapa yang dikehendakinya. Kemahakuasaan Allah adalah sebuah hal yang mutlak. Langit dan bumi serta segala isinya merupakan buah dari pekerjaan tangan Tuhan (Yesaya 45:7).

APLIKASI/ PENERAPAN

  1. Pemegang otoritas tertinggi di dalam dunia termasuk di dalam gereja adalah Tuhan Allah. Sebagai manusia ciptaan-Nya secara khusus sebagai gereja atau kawanan domba gembalaan-Nya, kita wajib menunjukkan ketundukan, ketaatan, kepatuhan kita kepada Tuhan.  Sebab Tuhan Yesus sendiri mengatakan bahwa yang disebut sebagai domba-domba-Nya adalah mereka yang mendengarkan suara Tuhan dan mengikut-Nya sedangkan mereka yang tidak percaya pada perkataan Tuhan dan tidak bersedia mendengarkan-Nya tidak termasuk domba-domba Tuhan Allah (Yoh 10:25-27). Sikap tunduk kepada Allah berarti mengesampingkan kehendak sendiri dan bersedia diatur sesuai dengan kehendak dan rancangan Allah. Tunduk dan taat pada Allah merupakan  proses penyerahan kehendak kita kepada Sang Bapa. Namun perlu disadari bahwa Allah tidak meminta kita tunduk karena Ia adalah diktator / tiran, tetapi karena Ia adalah Bapa yang mengasihi dan Ia mengetahui yang terbaik bagi kita. Berkat dan damai yang kita dapatkan dari penyerahan diri setiap hari kepadaNya adalah anugerah yang jauh lebih berharga dari apa yang dapat ditawarkan dunia. Jaminan kehidupan kekal yang tidak dapat diberikan oleh siapapun menjadi kekuatan bagi kita untuk senantiasa percaya dan tunduk kepada-Nya.
  2. Bersamaan dengan sikap menunjukkan ketaatan dan ketundukkan kepada Tuhan Allah, kita harus sungguh-sungguh berserah diri kepada-Nya (Yakobus 4:7). Di dalam Efesus kita membaca bahwa sang istri harus tunduk kepada sang suami sama seperti kepada Tuhan dan sang suami juga harus "mengasihi" istrinya (Efesus 5:22-25). Rasul Petrus menulis, "Demikian jugalah kamu, hai orang-orang muda, tunduklah kepada orang-orang yang tua. Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: 'Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.' Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya. Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu" (1 Petrus 5:5-7). Yang ditekankan disini adalah kerendahan hati. Seseorang tidak dapat tunduk kepada Allah tanpa memiliki kerendahan hati. Ketaatan mensyaratkan kita untuk merendahkan diri kepada otoritas lain, dan kita diberitahu bahwa Allah menolak kesombongan - kebalikan dari rendah hati - dan kecongkakan yang memupuk kesombongan.
  3. Tuhan Allah adalah pemegang otoritas tertinggi di dalam dunia. Tetapi perlu disadari bahwa Tuhan Allah bekerja di tengah dunia dan gereja-Nya, menyatakan kehendak dan rancangan-Nya melalui manusia. Ia mendelegasikan otoritas-Nya kepada pihak lain.  Dalam perjalanan sejarah gereja, kita mengenal otoritas rasuli, otoritas Kristus yang didelegasikan pada para rasul sebagi saksi, utusan dan wakil Kristus, yang oleh Dia diberi kuasa untuk mendirikan, membangun, dan mengatur gereja-Nya yang Am. Dan berdasarkan otoritas itu sebagai juru bicara-Nya, dengan kuasa-Nya, para rasul memberi perintah dan menetapkan disiplin, memilih para penatua dan diaken. Nah, dalam konteks bergereja pada masa sekarang dengan semangat dan kuasa yang sumbernya sama yaitu Kristus Tuhan, sang Kepala Gereja, pemilik persekutuan, tugas kerasulan itu diemban oleh para pelayan (pendeta, penatua, diaken) di tengah-tengah jemaat. Dalam hal ini para pelayan harus menyadari bahwa otoritas yang ada padanya adalah sebuah kepercayaan dari Tuhan yang harus dijalankan sesuai dengan kehendak Allah. Kehadiran para pelayan adalah sebagai hamba-hamba Allah yang bekerja sesuai petunjuk sang tuan. Penekanan pada gereja sebagai kawanan domba Allah hendak menegaskan peran seorang pelayan sebagai gembala. 1 Petrus 5:3 memiliki sebuah gambaran yang indah mengenai pelayanan yang seimbang: "Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu." Otoritas seorang pelayan bukanlah sesuatu yang perlu "diperintahkan" di atas gereja; melainkan, seorang pelayan harus menjadi teladan akan kebenaran, kasih, kekudusan, dan kesetiaan bagi jemaat Allah (1 Tim 4:12). Seorang pelayan adalah "pengatur rumah Allah" (Tit 1:7), dan ia harus bertanggungjawab kepada Allah tentang kepemimpinannya di dalam gereja. Inilah sebabnya mengapa Yesus memperingatkan, “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!" (Matius 7:21-23). Pada hari penghakiman, Yesus akan menolak orang-orang tertentu, bukan karena mereka tidak menyembah-Nya, tetapi karena mereka tidak melakukannya sesuai dengan kehendak-Nya. Allah berjanji untuk membangun sebuah rumah (Yesaya 2:2-3). Rumah ini adalah apa yang disebut Yesus “gereja-Ku”. Yesus membeli gereja ini dengan darah-Nya, “Karena itu jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah Anak-Nya sendiri” (Kisah Rasul 20:28). Marilah kita menghormati otoritas Allah. Kita tidak boleh menambah hal-hal yang telah diperintahkan Allah. Tetapi juga kita tidak boleh mengurangi hal-hal yang telah diperintahkan Allah (Wahyu 22:18, 19).

Otoritas tertinggi ada pada Allah maka biarlah segala hormat dan kemuliaan hanya bagi Tuhan. (OAT)