Kebenaran Sejati

Bacaan Alkitab Filipi 3:1b-11 dan Mzm 139:23-24
Tanggal/Warna Liturgy 18 Agustus 2019/Hijau

Kekristenan mula-mula tidak pernah lelah untuk hidup serupa dengan Kristus, sebab mereka sungguh sadar bahwa penderitaan dan pengorbanan Kristus yang memberi kehidupan kekal bukan karena usaha atau kekuatan sendiri. Ironinya, kekristenan di masa kini enggan hidup serupa dengan Kristus, malah semakin serupa dengan dunia. Kita terjebak dengan kemajuan teknologi dan informasi yang begitu cepat, sehingga kita lebih mengutamakan hal-hal lahiriah; mulai dari gaya hidup, penampilan yang kece atau modis agar orang bisa melihatnya, uang dan makanan adalah prioritas utama dalam hidup ini, sehingga hidup diisi hanya untuk memenuhi kebutuhan lahiriah. Karena itu, tidak sedikit orang Kristen yang lebih mengutamakan kerja atau usahanya daripada mengikuti persekutuan, alasannya sederhana bahwa lebih untung ketika bekerja di hari Minggu daripada masuk ke gereja. Waspadalah saudara/i yang dikasihi Tuhan, sebab itulah awal dari segala kehancuran dan kegagalan, yakni ketika kita lebih mencintai uang, pekerjaan, penampilan, daripada mencintai dan mengenal Kristus Sang Kebenaran Sejati.

                Sekitar tahun 61 masehi, Rasul Paulus menulis surat kepada jemaat di Filipi yang berisi nasihat-nasihat karena mengetahui bahwa di dalam jemaat tersebut sedang mengalami perpecahan. Meskipun saat itu Rasul Paulus sedang berada di dalam penjara, namun ia memiliki keterikatan emosional dengan jemaat Filipi saat itu. Sebab Filipi merupakan kota pertama di Eropa yang Paulus kunjungi dan memberitakan injil di sana, kemudian ia mendirikan jemaat di sana. Kisah Para Rasul 16 mencatat bahwa jemaatnya terdiri dari orang-orang bukan Yahudi, orang-orang Yahudi yang sudah menjadi Kristen, dan orang-orang yang takut akan Tuhan.

                Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Persoalan yang dihadapi oleh jemaat di Filipi adalah musuh-musuh Kristus, yakni orang-orang yang hidupnya tidak murni dan hanya mengejar kepentingan sendiri, dan inilah yang disebut oleh Rasul Paulus ‘hati-hatilah terhadap anjing-anjing’, kata ini juga yang biasa digunakan sebagai penghinaan orang Yahudi terhadap bangsa lain. Sebab saat itu di daerah kota Timur, kawanan para anjing berkeliaran di pinggiran kota, tanpa rumah dan pemilik, memakan sampah atau kotoran yang ada di jalanan, bertengkar di antara mereka sendiri, dan menyerang orang yang lewat di sekitarnya. Kalau zaman sekarang disebut sebagai anjing rabies, bahkan bisa menyerang tuannya sendiri.

                Hal itu sungguh menjadi kecemasan Rasul Paulus, sebab jemaat di Filipi tergolong jemaat muda yang baru mengenal Kristus, sehingga tidaklah sulit bagi mereka terpengaruh dengan ajaran-ajaran yang datang dari luar, bahkan menimbulkan pertengkaran dan perpecahan di antara mereka. Istilah ‘anjing-anjing’ pada zaman itu menunjuk pada orang-orang yang hanya mengutamakan kepentingannya sendiri, terutama perut mereka, hal-hal duniawi yang mereka kejar (Flp 3:19).

                Saudara-saudari, kehidupan jemaat di Filipi saat itu memberi peringatan juga kepada kita saat ini untuk hidup berhati-hati terhadap ajaran-ajaran dunia, yang membuat kita hidup dalam pementingan diri sendiri, sehingga tidak peduli lagi dengan orang di sekitar kita, bahkan menerkam mereka hanya untuk perut kita kenyang, barulah kita senang. Tidak dapat dipungkiri, ini merupakan realita kehidupan di dunia ini, siapa yang kuat dia yang menang. Sungguh ironi, ketika pemahaman ini masuk ke dalam gereja dan kita ikut terlibat di dalamnya. Berhati-hatilah dengan kesombongan diri yang bisa menjadi virus untuk merusak sendi-sendi di dalam gereja atau persekutuan kita.

                Berhati-hatilah terhadap pekerja-pekerja jahat, yang bekerja seolah-olah untuk injil namun sebenarnya menipu, dan bukan melayani untuk Tuhan tetapi untuk keuntungan diri sendiri atau  perutnya sendiri. Pernahkah saudara-saudari temukan orang-orang yang seperti itu dalam kehidupan persekutuan dan pelayanan? atau pernahkah kita melakukan juga seperti pekerja jahat itu, yang tidak peduli lagi tentang kejujuran yang penting saya mendapat keuntungan. Mari kita mengubah diri kita terlebih dahulu sehingga persekutuan kita dapat dipulihkan. Belajarlah jujur dari hal terkecil, terutama dari pekerjaan yang kita lakukan hanya untuk kemuliaan Tuhan.

                Berhati-hatilah terhadap penyunat-penyunat palsu, yaitu mereka orang Yahudi yang menuntut sunat bagi orang bukan Yahudi yang ingin mengikut Kristus. Ini semua mereka lakukan dengan pandangan bahwa haruslah menjadi Yahudi terlebih dahulu baru bisa menjadi orang Kristen (Pengikut Kristus). Hal lahiriah yang sifatnya seremonial mereka utamakan untuk mendapatkan pujian manusia, sehingga Kristus bukanlah yang utama bagi mereka. Inilah yang direspon oleh Rasul Paulus, yakni bukan sunat lahiriah yang utama melainkan  sunat sejati ialah orang-orang yang beribadah oleh Roh Allah, dan bermegah dalam Kristus Yesus dan tidak menaruh percaya pada hal-hal lahiriah (Flp 3:3). Sama ketika Rasul Paulus mengingatkan jemaat di Roma bahwa yang lebih utama adalah sunat hati, secara Rohani bukan secara hurufiah, sehingga pujian datang bukan dari manusia melainkan dari Allah (Rm 2:29).

                Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, jangan kita menganggap bahwa ketika sudah dibaptis dan disidi kemudian sudah menjadi orang paling benar.Tuhan melihat kedalaman hati kita, apakah kita sungguh hidup dalam Kasih Tuhan atau hanya dengan kecongkakkan hati kita, yakni merasa diri paling benar. Jangan kita merasa hebat kalau sudah datang gereja, memberi persembahan yang besar, namun hati kita masih dipenuhi dengan kebencian dan kedengkian terhadap orang lain, mari kita datang di hadapan Tuhan dengan kerendahan hati, layaknya pemazmur Daud memohon kepada Tuhan untuk menyelidiki hidup dan hatinya, bahkan untuk melihat jalannya yang serong (Mzm 139:23-24), sehingga kita meminta tuntunan hanya kepada-Nya Kristus Sang Kebenaran Sejati.

                Sidang jemaat yang dikasihi Tuhan, Rasul Paulus mengingatkan kepada jemaat di Filipi, bahwa awalnya dia adalah seorang Yahudi yang taat terhadap hukum Taurat seperti orang Farisi, dan tidak bercacat dalam memahami hukum Taurat (Flp 3:5). Dahulu, semua itu,  merupakan kehebatan dari Rasul Paulus bisa menjadi penganianya jemaat dan mengamalkan Taurat yang bersifat lahiriah. Ternyata setelah Rasul Paulus mengenal Kristus, barulah dia sadar bahwa yang dia lakukan sebelumnya adalah sampah atau sesuatu yang tidak berguna, sia-sia. Semua itu hanyalah kebenaran semu atau palsu yang tidak akan menyelamatkan dia, sedangkan di dalam Kristus yang adalah Kebenaran Sejati, Rasul Paulus sadar akan kelemahan dia sebagai manusia, dan hanya melalui penderitaan-Nya, kematian-Nya, hingga kuasa kebangkitan-Nya saja yang memberi kehidupan kekal baginya.

                Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, kekristenan mula-mula menghadapi tantangan yang begitu hebat untuk memikul salib Kristus, namun mereka sanggup melaluinya karena bisa melepaskan ‘sampah-sampah’ atau sesuatu yang sia-sia dalam hidup ketika mengikut Yesus. Sebagai penerus kekristenan mula-mula, mari kita lepaskan ‘sampah-sampah’ yang ada dalam hati kita, sebab semuanya itu akan membawa kita ke dalam kebinasaan. Mari kita bertobat, dengan penuh kerendahan hati datang kepada Yesus, Dia Sang Kebenaran Sejati akan memulihkan kita secara pribadi, memulihkan keluarga kita, memulihkan persekutuan kita, sehingga kita menjadi saksi Kristus yang lebih mengutamakan Dia dalam segala hal daripada hal-hal lahiriah yang akan membawa kita kepada kesengsaraan.

Kiranya Roh Kudus menolong kita untuk menghidupi Kebenaran Sejati dan melakukan Firman-Nya, Terpujilah Nama Tuhan Kini dan Selamanya, Amin. (EPP)