Kemerdekaan Kristen

Bacaan Alkitab Galatia 5: 1-15,  Mz 119: 41-48.
Tanggal/Warna Liturgy 17 Agustus 2019/Hijau (Hari Kemerdekan RI)

 

Saudara-saudara, kita semua tahu bahwa tanggal 17 Agustus, adalah hari bersejarah bagi bangsa Indonesia. Pada tanggal itulah Ir. Soekarno di dampingi oleh Moh. Hatta membacakan teks Proklamasi, memproklamirkan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang merdeka.

Merdeka berarti bebas. Bebas dari penjajahan bangsa asing.

Ketika bangsa Indonesia masih berada dalam penguasaan penjajahan, masyarakat dan bangsa kita tidak bebas. Semua aktifitas dan gerak pemerintahan dan masyarakat berada dibawah pengawasan dan tekanan bangsa penjajah. Mereka tidak bisa melakukan aktifitas secara bebas. Ruang gerak dan aktifitasnya pun dibatasi dan dikendalikan oleh penjajah. Kita bisa membayangkan penderitaan masyarakat pada waktu itu.

Namun setelah Indonesia menyatakan kemerdekaannya;  apakah dengan serta merta mereka telah bebas melakukan aktifitasnya? Dengan kata lain apakah hak-hak dan kewajibannya sebagai warga negara dapat dilaksanakan dan dipenuhi dengan baik dan seimbang?

Terlepas dari jawaban pertanyaan ini, kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia mengalami perubahan yang lebih baik, ketimbang masih dalam cengkeraman penjajahan.

Karena itu setiap kita memperingati kemerdekaan bangsa Indonesia, penekanan peringatan hari kemerdekaan itu cenderung menekankan bagaimana mengisi kemerdekaan dengan baik bukan hanya  melalui pembangunan fisik melainkan juga pembangunan mental dan spiritual bangsa.

            Kalau kemerdekaan kita sebagai bangsa Indonesia menuntut kita untuk mempertahankan dan mengisi kemerdekaan dengan baik, maka sebagai umat Tuhan yang adalah juga bahagian dari warga negara,  kita wajib mengisi kemerdekaan itu dengan hal-hal yang baik dan berguna bagi kelangsungan hidup bersama.

Dan ini sangat selaras dan sesuai dengan ajaran Firman Tuhan yang kita baca hari ini (Gal 5: 1-15). Yang menekankan tentang Kemerdekaan Kristen.

Kemerdekaan Kristen adalah kemerdekaan yang  menuntut kita untuk mempertahankan dan mengisinya dengan kebaikan.

Kebenaran inilah yang ditekankan dari Galatia 5:1-15.

 

ayat 1 tadi menyatakan, “supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.” Ayat ini menyatakan bahwa kita sudah merdeka. Tetapi merdeka dari apa? Paulus menggambarkan kemerdekaan kita lebih jelas pada Roma 8:1-2, “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut.” Ayat ini menyatakan bahwa Kristus telah memerdekakan kita dari penghukuman karena dosa yang telah memperbudak kita. Kita tidak akan dikuasai oleh maut lagi tetapi beroleh hidup. Dan Yohanes 3:16 menyatakan bahwa, barang siapa yang percaya kepada Yesus tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal. dalam surat Galatia, khususnya pasal 4-5, memiliki Hidup yang kekal sama dengan mewarisi Kerajaan Allah.

            Jadi, orang Kristen telah merdeka dari penghukuman karena dosa, dan karena itu orang Kristen tidak akan binasa melainkan beroleh hidup yang kekal sebagai pewaris Kerajaan Allah.

Karena itu sebagai orang yang telah mewarisi kerajaan Allah, wajib memahami akan arti hidupnya bahwa hidup sebagai warga kerajaan Allah adalah hidup yang mencerminkan ketaatannya kepada Allah sebagai Raja. Apapun titah dan perintah Sang Raja patut di hormati dan ditaati serta dilaksanakan.

            Sekali lagi kita diingatkan bahwa Kemerdekaan hanya diperoleh melalui iman kepada Kristus. Hanya iman kepada Kristus itulah yang menyelamatkan.

Pertanyaan adalah, “kalau kita diselamatkan hanya oleh iman, untuk apa kita berbuat baik? Atau mengapa kita diperintahkan berbuat baik?”      

Pertanyaan ini menghantar kita pada tantangan iman. Kita menyaksikan bahwa dalam Jemaat di Galatia berkembang paham yang kurang lebih mengajarkan bahwa karena kita sudah selamat, ya kita bebas berbuat apa saja. Perbuatan tersebut lebih cenderung pada perbuatan dosa daripada perbuatan yang benar.

Karena itu Paulus mengingatkan kita di ayat 13-15. Di ayat 13 dinyatakan, “saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain dalam kasih.”

Sebenarnya peringatan tentang hal itu masih berlanjut dalam perikop selanjutnya. Gal. 5:16-26 menunjukkan bahwa orang Merdeka dipanggil hidup menurut Roh, bukan menuruti keinginan daging. Gal. 6:9-10 menyimpulkan, “janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya kita akan menuai jika kita tidak menjadi lemah.

Karena itu selama masih ada kesempatan bagi kita marilah kita berbuat baik kepada semua orang tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.”

Jadi intinya Rasul paulus mengingatkan bahwa seorang yang telah dimerdekakan oleh Kristus, hidupnya dipenuhi Roh, sehingga menghasilkan buah Roh dalam kehidupannya.

Rasul Yakobus dalam suratnya kepada Jemaat di perantauan juga menyinggung tentang adanya bahaya pemahaman iman yang keliru dalam jemaat. Yak. 2:14, “apa gunanya, saudara-saudara, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia?” Kemudian di ayat 17 dikatakan, “jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.” Jadi, kita mendapat gambaran bahwa perbuatan adalah bukti dari iman. Perbuatan adalah bukti yang kelihatan dari iman yang tidak kelihatan.

Apakah Iman kita sejalan dengan ketaatan Kita? Kemerdekaan atau Keselamatan yang kita miliki harus diisi dengan ketaatan dan kebaikan. Ketaatan adalah bukti yang kelihatan dari iman yang tidak kelihatan. Apakah hidup kita taat atau tidak? Jika hidup kita dipenuhi dengan ketidaktaatan, maka sesungguhnya iman kita adalah iman yang mati.

           Saudara-saudara…. Kalau kita mencermati persoalan bangsa saat ini salah satu yang memberikan kontribusi dalam kemerosotan bangsa adalah orang Kristen yang mengabaikan ketaatan kepada Tuhan.

            Salah satu dari sekian pergumulan bangsa adalah kedisiplinan, loyalitas dan tanggung jawab kita sebagai masyarakat. Sangat sedih jika melihat bahwa orang Kristen  juga tidak punya disiplin, loyalitas dan tanggung jawab. Iman kita sejalan dengan kedisiplinan kita, sejalan dengan loyalitas kita, sejalan dengan tanggung jawab kita. Orang Kristen yang berprofesi sebagai pengabdi bagi bangsa seharusnya disiplin, loyal dan bertanggung jawab. Sebab mengabdi kepada Bangsa adalah juga mengabdi kepada Allah. sebab Pemerintah adalah Hamba Allah… (bandingkan Roma 13: -17)

            Selain itu, persoalan bangsa lainnya adalah merajalelanya korupsi. Banyak dari kasus korupsi yang terjadi bermuara pada pengusaha/kontraktor bahkan pejabat. Kontraktor atau pengusaha Kristen juga pejabat Kristen, imannya harus tertuang dalam integritasnya, kebaikan, kejujuran dan ketulusannya.

            Satu lagi bagian yang nampaknya kecil tapi pengaruhnya sangat besar, yaitu Gereja. Apakah bapak, ibu, saudara yakin bahwa gereja kita ini dan para pengurus yang ada, para pelayanan, para petugas, para panitia yang ada di dalamnya disiplin, loyal dan bertanggung jawab mengerjakan mandat pelayanan dari Tuhan?   

Saya percaya Iman yang ada di dalam diri kita saat ini bergejolak ketika ketaatan sudah disuarakan. Saya percaya kita yang mempunyai iman yang hidup akan berjuang memperbaiki diri, gereja kita, lingkungan pekerjaan kita, bahkan dalam hubungan kemasyarakatan. Kita berupaya… Kiranya Kristus menolong kita mewujudkan ketaatan itu karena kita adalah orang-orang yang sudah merdeka. Amin. (HM)