Menegakan Keadilan Sosial

Bacaan Alkitab Yehezkiel 45:9-17, 1 Korontus 6:1-8
Tanggal/Warna Liturgy 15 September 2019/Hijau

 

Pendahuluan

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus....

                Di dunia yang semakin mementingkan individualisme dan materialisme, semakin sulit ditemukan keadilan. Keadilan merupakan barang langka dan mahal. Kita sering mendengar orang berteriak meminta keadilan, tapi kita akan bingung menjawab dimana orang yang berteriak itu bisa mendapatkan keadilan. Kata keadilan ini akan terasa sangat semu manakala sebagian orang bisa membelinya. Kalaupun memang harus masuk penjara, sang terdakwa tetap bisa menyulap selnya menjadi hotel mewah seperti bintang lima, lengkap dengan televisi, air panas, ac, kulkas bahkan salon kecantikan. Kebiasaan suap menyuap ini memang sangat sulit untuk dihilangkan. Hukum ekonomi jelas berlaku disini. Ada pasar, ada pembeli dan ada penjual. Betapa memprihatinkan ketika lembaga peradilan yang seharusnya menjadi tempat dimana keadilan bisa ditegakkan malah menjadi tempat yang paling sulit untuk mendapatkannya.

                Tema kita hari ini yakni “Menegakkan Keadilan Sosial” Keadilan sosial sesungguhnya merupakan suatu konsep bermuatan politis, yang tidak dapat benar-benar dipisahkan dari konteks kehidupan modern. Keadilan sosial sering diserukan oleh mereka yang berada di sayap kiri dalam dunia perpolitikan. Keadilan sosial juga merupakan konsep yang digunakan beberapa orang untuk menjelaskan gerakan menuju dunia yang adil secara sosial. Dalam konteks ini, keadilan sosial didasarkan pada konsep hak asasi manusia dan kesetaraan, dan melibatkan tingkat egalitarianisme ekonomi yang lebih besar dari melalui pajak progresif, redistribusi pendapatan, atau bahkan redistribusi properti. Kebijakan ini bertujuan untuk mencapai kesetaraan.

                Yang menjadi pertanyaan kita adalah, apa pandangan Alkitab tentang keadilan sosial? Alkitab menyatakan kalau Allah adalah Allah yang adil. Bahkan, "segala jalan-Nya adil" (Ul 32:4). Alkitab mendukung konsep keadilan sosial, di mana perhatian dan kepedulian ditunjukkan kepada penderitaan orang yang miskin dan yang menderita (Ul 10:18; 24:17; 27:19). Alkitab sering berpihak kepada anak yatim, janda dan para pendatang, yaitu mereka yang tidak mampu untuk menghidupi dirinya sendiri atau tidak memiliki sistem yang mendukung mereka.

Pendalaman Teks                                                                   

                Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus......

  1. Dalam Kitab Yehezkiel Pasal 45:9-17, ini merupakan bagian dari penglihatan Nabi Yehezkiel di sekitar Bait Suci yang baru dimana Allah hadir dengan kemuliaan dan kehendak-Nya. Supaya kemuliaan dan kehendak Allah menjadi nyata, Yehezkiel memerintahkan para pemimpin Israel terutama Raja-Raja Israel akan segala tanggungjawabnya dalam hal pengelolaan persembahan(ay 16).

Seorang Raja, bagi bangsa Israel pada zaman dahulu adalah sebagai tokoh, pemimpin yang penting dan sangat menentukan dalam mempengaruhi kehidupan Israel di alam hidup selaku milik Allah (selain imam dan nabi). Jika imam adalah juru jajaran rohani kepada Allah dan nabi adalah penyambung lidah Allah kepada manusia, maka seorang raja Israel adalah juga orang yang dipilih atas kehendak Allah yang memainkan peran penting dalam ibadat Israel. Raja diurapi untuk memanahkan pemerintahan di atas badan dan harus menjalankan pemerintahan dengan penuh tanggungjawab., supaya seluruh bangsa dapat merasakannya (band. 2 Samuel 21: 1).

                Tugas raja adalah menjalankan keadilan, mengelola pemerintah, masyarakat, memberikan dukungan untuk masyarakat. Karena raja adalah pemimpin maka cara hidup dan keputusan-keputusan atau dilakukan untuk menunjukkan sikap yang membawa orang kepada kebenaran atau keadilan yang Allah kehendaki.

                Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus......

                Yehezkiel mengecam para Raja-raja Israel Karena gagal memerankan diri sebagai pemimpin yang telah dipilih dan diurapi sesuai yang Allah kehendaki. Banyak terjadi pemerasan atas hak-hak orang miskin dan yang lemah, aniaya, kecurangan takaran yang berdampak pada terciptanya ketidakadilan sosial. Kecurangan yang terjadi di sini bukan hanya di dalam ibadah tapi dalam rangka perdagangan.Tanah dan bahan-bahan untuk persembahan korban di bait suci yang semestinya bekerja untuk pendamaian bagi Allah (ay 13-15; band. Im 1-5) dan semua kurban yang disalurkan melalui raja (16-17) diselewengkan karena keserakahan para raja.

                Praktik ketidakadilan yang dikecam Yehezkiel itu nampak dalam permainan revolusi, efa, bat dan syikal yaitu alat-alat timbangan dan ukuran raja sebagai standar yang dikenal di Babel. Alat-alat timbangan ini digunakan untuk menipu atau serong dengan cara meningkatkan atau mengurangi timbangan untuk menipu orang lain untuk mencari keuntungan (Ul 25: 13-15.Band. Mik 6: 11; Ams 11: 1; 20: 23; Nyaris bagi bangsa Israel wajib hukumnya selain timbangan, ukuran dan perubahan yang benar (Yeh 45:10, band. Im 19: 35-36).

                Para Raja sebagai pemimpin pemerintahan yang bertanggung jawab untuk memungkinkan Allah memasukkan kekudusan dan melakukan perbuatan curang, tidak adil dan jujur. Ritual sebagai pilar penting dalam ibadah dan persembahan korban dinodai dengan praktek-praktek ketidakjujuran. Peran Raja sebagai pemimpin Israel yang mesti menjadi teladan hidup menjadi gagal.

                Bagi Yehezkiel, peran para pemimpin terutama Raja Israel tidak untuk memeras orang-orang yang mengupayakan kesejahteraan, menegakkan kebenaran atau semangat demi menopang pelayanan untuk Allah (ay 9); Tidak perlu ada kecurangan dalam hal mengatur persembahan. Seorang pemimpin haruslah mengelola persembahan untuk orang Israel yang datang kepada Allah (17). Seorang pemimpin tidak menjadi tuan yang berkuasa secara sewenang-wenang, Sebab yang harus menjadi pusat perhatian adalah Allah yang selalu hadir dalam bait-Nya.

                Saudara-saudara yang sama dikasihi Tuhan Yesus......

                Hal yang sama dalam pembacaan kita yang kedua 1 Korintus 6:1-8, Paulus menegur keras jemaat Korintus yang berani mencari keadilan kepada orang-orang yang tidak benar. Apa yang hendak dikatakan oleh Paulus kepada jemaat di Korintus adalah, “Apakah kamu tidak malu mengajukan saudaramu seiman ke pengadilan?” Lebih lanjut Paulus dengan gaya retorika bertanya, “Tidak tahukah kamu bahwa orang-orang kudus akan menghakimi dunia?” Jika kita mempunyai perselisihan dengan orang percaya lainnya, maka kita jangan terburu-buru mengajukan saudara kita itu ke pengadilan, karena masih ada orang-orang kudus yang mampu menyelesaikan permasalahan tersebut. Dari ayat 2 sampai ayat 6 Paulus memberikan argumentasi yang panjang lebar, mengapa kita tidak perlu mengajukan saudara seiman ke pengadilan, karena masih ada orang kudus yang mampu memecahkan permasalahan tersebut. Paulus mengatakan bahwa jika ada seorang Kristen mengajukan saudaranya seiman ke pengadilan, menunjukkan bahwa orang-orang kudus telah gagal melaksanakan tugasnya. Diajukannya seorang beriman ke pengadilan menunjukkan kegagalan orang-orang kudus dalam menyelesaikan masalah tersebut.

Aplikasi dan penutup

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus......

  1. Allah dalam Yesus Kristus adala kudus, benar dan adil. Sifat dan tindakan Allah ini harus ada standar hidup dan perilaku orang-orang percaya dalam setiap aktivitas hidup. Kekudusan, kebenaran dan Keadilan Allah hanya dapat dijunjungtinggi dan ditegakkan ketika bertitik tolak pada apa yang menjadi kehendak Allah bukan ukuran manusia. Ibadah dan perilaku hiduplah yang harus dilakukan pada Allah harus dinyatakan dalam perbuatan yang baik, benar atau adil. Karena itu semua perilaku hidup yang bertentangan dengan Allah seperti perampasan hak-hak orang miskin dan lemah, kecuraangan, kekerasan, aniaya dan lain-lain tidak bisa mendapatkan tempat dalam hidup orang percaya.
  2. Paulus menjelaskan bahwa munculnya perselisihan diantara anggota jemaat sangat jelas bahwa ini merupakan kegagalan sebagai seorang Kristen. Jika konflik muncul diantara kita, ini menunjukkan bahwa kita sudah gagal untuk bersikap sebagai seorang Kristen. Munculnya konflik diantara saudara seiman merupakan kesalahan kedua belah pihak. Inilah yang dimaksudkan oleh Paulus ketika dia mengatakan bahwa dengan munculnya konflik sudah merupakan kekalahan bagi kedua belah pihak. Tidak ada satu pihakpun yang akan meraih kemenangan dari sebuah konflik, walaupun kelihatannya dia meraih kemenangan, namun pada hakekatnya kedua belah pihak akan terluka, dan kedua belah pihak telah gagal untuk bersikap sebagai seorang Kristen.

                Paulus menjelaskan bahwa adalah lebih baik menderita kerugian dan menderita ketidak adilan, jika hal itu bisa menyelesaikan konflik. Saya yakin bahwa kita semua pernah merasa diperlakukan tidak adil. Jika kita bisa atau mau menerima perlakuan itu, maka konflik yang menimbulkan dampak yang lebih buruk akan terhindarkan. Disamping itu saya percaya, jika kita melakukan itu dengan kesadaran sendiri, Tuhan yang adil yaitu Kristus Yesus akan bertindak bagi kita. Dalam ayat 11 Paulus berkata, “…beberapa orang di antara kamu demikianlah dahulu. Tetapi kamu telah memberi dirimu disucikan, kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita.” Karena itu, marilah kita bertindak sebagai seorang Kristen. AMIN (ARS)